PUSARA HIDUP
Ketika kita terasa mati, ketika kita tak bisa berbuat banyak, tak tahu harus berbuat apa, selayaknya kita di Pusarai di patoki di tengeri dengan dua Pusara, apa itu?. Sabar dan Syukur
SABAR & SYUKUR
Romantika kehidupan bisa berwarna warni, ada hitam ada kelabu kadang putih lalu suatu saat kita jumpai jingga, merah, karna warna itulah lukisan diri kita hidup bisa dinilai bahkan dinikmati.
Jika kita menginginkan kehidupan kita berwarna putih, tidak ada kotoran, tidak ada accident tidak ada keburukan tidak ada tangisan tidak ada musibahm masalah tidak ada warna merah atau hitam. Lalu bagaimana bentuk lukisan kita. Putih, polos tidak ada gambar?
Apapun yang telah tertoreh dalam kehidupan kita dalam lukisan kita yang kita sendiri telah mewarnainya semua itu adalah yang terbagus buat kita.
Kita semestinya bersyukur atas apa yang telah kita terima, apapun itu bentuknya; musibah, tangisan, penderitaan, kegagalan atau apalah-apalah yang lain. Apapun itu warnanya; hitam atau merah, terimalah itu semua sebagai sebuah bentuk kehidupan, warna lukisan kehidupan kita, lalu kita upayakan untuk meneladani menelaah dan menilai apa yang telah dan sedang terjadi dalam kehidupan kita itu. Syukuri, syukuri tuhan masih memberi kesempatan kita untuk memperbaiki lukisan kehidupan kita yang belum sempurna atau ternoda atau belum terbentuk dan ternilai, kita masih diberi kesempatan untuk mentaubati kehidupan kita yang telah kita langgar, kita nodai, kita lumuri dengan dosa dan warna yang tak semestinya ada atau berada pada sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Terimalah dulu apa adanya. jangan berontak menyalahi diri sendiri apalagi menyalahi tuhan. Ya semua telah terjadi, jangan sampai yang ndak bener terjadi lagi, salah lagi maka bertaubatlah, kita telah berbuat salah mohon ampun dan mohon maaflah kepada tuhan yang telah memberi kita lembaran kehidupan dengan tinta beraneka warna yang kita disilakan memilih warna apa untuk kita toreh dilembar kehidupan kita dan kita telah melanggarnya telah melakukian kesalahan kenistaan, kebodohan
Tentu untuk memperbaikinya tidak lah gampang tidak lah mudah, harus sabar dan telaten. Jika harus dibersihkan perlu kesabaran, ketelatenan bahkan kehati-hatian agar apa yang telah kita lukis kita rintis tidak salah lagi tidak bertambah buruk lagi, Jika harus ditutupi tutupi dengan warna putih atau warna kebalikan atau perbuatan yang sebaliknya, Yah, bila telah berbuat buruk berbuat jelek cepat-cepatlah mengdakan perbaikan dengan perbuatan baik, paling tidak perbuatan baik tiu adalah minta maaf mohon maaf mengakui kesalahan menerima akibat yang ditimbulkan (yakni rasain lo bukan kite)..
Jadi Patok atau tanda (tetengaer) pusara kehidupan kita kalau begitu yang patut dan pantas adalah Sabar & Syukur
Kalaulah bentuk lukisan kita sudah berpola sudah berbentuk sudah berarti dan bernilai jangann lalu kita pongah, sombong atau begudul. Ndak panteslah wong lahire bae ndak Katok-an kalau ndak di-katok-i (tidak berbusana alias bugil) .
Yah karna Lukisan kehidupan kita belum berbingkai belum dilelang dihadapan orang banyak dipadang mahsar nanti, belum tentu lukisan kehidupan kita sesuai dengan harapan dan kemauan sang Maha Memiliki (pemilik warna tinta lembar kehidupan bahkan diri kita) apakah kita patut menilai diri sendiri dengan kesombongan dan kepongahan kita?, kadang kita tak sadar sebenarnya siapa sih kita ini, Sang Maestro lukisan begitu? lukisane paling apik dewe ngunu?. Ndak, tidak sama sekali. Kita dak pantes Sombong, ndak layak Takabbur, coba lihat kelangit ketika malam, bisakah kita melukis seperti itu, panorama pegunungan yang begitu indah dan mempesona nyata dikelopak mata (real 3D),..... kita?
Kita adalah manusia yang gampang Sambat manakala melarat, paham?
Sambat, ngersulo, nggrundel ngedumel (menggerutu, red) itulah kita bilamana ketiban sesuatu yang tidak kita sukai.Mustine yo Sabar to.
Jadi seyogyanya diri kita tidak dipatoki ditengeri di pusarai dengan Sombong dan Sambat akan tetapi terpujilah bila kita di pusarai dengan Sabar dan Syukur
Sampai Jumpa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar