BAGAIMANA
KITA SEBAIKNYA BERSIKAP TERHADAP HARTA
BENDA.
Wahai
anak-anakku, kalian dilahirkan kedunia tanpa membawa apa-apa, tapi setelah
kalian hidup di dunia ini kalian dipaesi
(dihiasi) dengan segala macam pernak-pernik materi/benda keduniaan sehingga
terpesona mata kita bila memandangnya dan kita bisa jadi besar kepala karenanya.
Jadi
ketahuilah bahwa engkau memiliki harta karna engkau diberi, maka berterima
kasihlah kepada yang memberi, bersikaplah senang dengan apa yang telah
diberikan, rawatlah dan peliharalah pemberiannya, gunakanlah sebaik mungkin
peruntukannya.
Janganlah
pernah engakau menganggap bahwa harta benda yang kau miliki karna hasil jerih
payahmu sendiri, hasil usaha dan pemikiranmu saja, tanpa ada yang selain kamu
yang membantu untuk mendapatnnya, entah itu orang tuamu, keluargamu,
pembantumu, karyawanmu atau mungkin peralatan yang kau miliki .
Tuhanmu
tidak membutuhkan upah dalam meberikan apa yang kau inginkan, tidak seperti karyawanmu yang bisa melakukan
demo bila tidak di kasih upah/bayaran. Tapi rasa hormat, terima kasih serta
pujian sepatutnya engkau lakukan kepadanya, dzat yang Maha pemberi yang tak tampak
oleh mata begitupun kepada mereka, orang-orang yang telah membantumu
mendapatkan harta itu, tunjukkanlah rasa harmatmu, terima kasihmu dan pujianmu
kepada mereka bahkan tunjukkan lah itu semua kepada harta benda yang telah
engkau miliki. Jangan ketika masih baru, masih segar saja engkau puja, engkau
sayang dan seterusnya tapi setelah kewut,
kempir, usang dan seterusnya engkau nistakan dia, engkau campakkan dia,
tega nian dikau.
Bayangkan
bila ada orang yang merengek, menangis, mengiba meminta sesuatu kepada kita
sehingga kita memberi apa yang dia minta tapi manakala telah sampai ditangan,
dia mengacuhkan,mencampakkan bahkan menyalah gunakan pemberian kita, apa reaksi
kita?
Bila
kita sudah tidak membutuhkan harta benda kita berikanlah kepada mereka yang
mendambakan, jangan disimpan ditumpuk tak digunakan tak dimanfaatkan.
Kalaulah
satu sudah cukup tak eloklah meminta dua, kalaulah punya lebih baiknya
diberikan kepada yang kurang. Kalaulah lima jari sudah cukup baiknya bila lebih
kita potong sahaja bukan?
Terima
kasih, itu adalah ucapan lisan seperti halnya Al-hamdulillah. Apa susahnya bila kita mengucapkannya?. Tahu diri
donk, bila tak diberinya tentulah kita tak berpunya, tapi bila sudah punya gak
patutlah besar kepala alias sombong, begedut,
begudul, ongkang-ongkang sombongnya keliwat yang ngasih pemberian
kepadanya. Kata Abah Yai “nyalip nggak pake klakson”, lempeng aja, itu baru
motor kredit yang dipake, Na’udzubillah deh.
Rebutan
patok bumi buat rumah misalnya semeter aja bisa rame sekampung sepengadilan
tapi kenapa bila bumi tempat kita kembali atau rumah terakhir kita tak ada
yang peduli , ya patoknya cuman dua itu doang kecil lagi, sempitkah?
Wadow,
lohor, Sholat dulu ach, maap ntar disambung lagi ya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar